Peluang Dari Yang Terbuang

Posted by Pulau Pasaran on Tuesday, September 15, 2015
Kawasan minapolitan yang ditetapkan oleh walikota Bandar Lampung Ir.Herman HN, Msi menjadikan Pulau pasaran menjadi sentra pengolahan hasil perikanan, khususnya perikanan tangkap. Sebagai pusat pengolahan hasil perikanan  terutama ikan teri dan kebutuhan pasar yang meningkat maka terjadi pula peningkatan produksi. Teri olahan yang di buat di Pulau pasaran tidak semuanya merupakan bagian tubuh ikan teri, sebagai dipasarkan dalam bentuk teri olahan tanpa kepala (headless). Selain limbah kepala ikan teri banyak juga hasil tangkapan yang nilai ekonomisnya rendah yang biasanya merupakan bycatch dari usaha penangkapan yang biasa disebut sebagai ikan rucah. Kedua limbah ini biasanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga jual yang sangat rendah.
Ikan Teri Jengki

Limbah Kepala Ikan Teri Jengki
 Dalam pengolahan ikan teri biasanya kepala ikan teri dipotong karena rasanya yang pahit dan tidak disukai oleh konsumen. Limbah kepala ikan teri ini bisa mencapai sekitar 10% dari total produksi. Setiap bulan rata-rata total produksi ikan teri olahan di Pulau Pasaran mencapai 57,6 ton, sehingga jumlah limbah kepala ikan teri setiap bulannya akan mencapai kurang lebih 6 ton. Limbah yang banyak tersebut hanya dijual ke peternak itik dengan harga Rp 1500 – 2000 per kilogram.
Kondisi ini menyebabkan perekonomian masyarakat tidak begitu berkembang. Tim Hi-Link Unila untuk Pengembangan Minapolitan dan Minawisata Pulau Pasaran yang diketuai Mahrus Ali, S.Pi., M.Si menilai perlu untuk berupaya meningkatkan pendapatan dan perekonomian para pengolah ikan teri di Pulau Pasaran. Alernatif yang bisa di berikan tim adalah dengan memberikan nilai tambah (added value) terhadap limbah yang semula memiliki harga jual yang rendah menjadi produk yang bernilai jual tinggi.
Pilihan yang diambil adalah pemanfaatan limbah kepala ikan teri dan ikan rucah sebagai bahan baku pakan ikan untuk perikanan budidaya. Pilihan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  baru-baru ini meluncurkan Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) sebagai upaya untuk mendorong penurunan harga pakan dengan memenuhi kebutuhan bahan baku lokal. Susi  juga menyatakan terus berupaya mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya dengan memenuhi kebutuhan komponen produksi secara mandiri. Pakan ikan/udang menjadi komponen produksi utama yang menentukan keberhasilan produksi perikanan budidaya, khususnya budidaya ikan air tawar. Namun kebutuhan bahan baku pakan nasional sebagian besar masih berasal dari bahan baku impor, sehingga berdampak pada tingginya harga pakan. Dengan memenuhi kebutuhan komponen produksi secara mandiri. Pakan ikan/udang menjadi komponen produksi utama yang menentukan keberhasilan produksi perikanan budidaya, khususnya budidaya ikan air tawar.  Alternatif pilihan yang dilakukan oleh Tim Hi-link mencoba untuk menyelaraskan tujuan pemerintah ini.
Untuk mendukung upaya peningkatan value added limbah pengolahan ikan teri tersebut maka limbah kepala ikan teri diuji terlebih dahulu untuk menentukan kandungan nutrisi yang akan dibutuhkan ikan budidaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai gizi dari limbah kepala teri ini masih tinggi yakni kadar  protein 33,67%, kadar karbohidrat 1,91%, kadar lemak 5,54%, kadar abu 36,04%, kadar air 21,06%, dan kadar serat kasar 1,74%.
Tepung Kepala Ikan Teri Jengki


Upaya pembuatan pakan ikan dengan bahan baku limbah kepala ikan teri ini dilakukan dengan menjadikannya sebagai tepung ikan yang merupakan komponen utama sumber protein dalam pakan ikan. Bahan tepung ikan yang dihasilkan dari limbah kepala ikan teri ini keudian dikombinasikan dengan berbagaibahan lain yang diformulasikan khusus untuk menghasilkan pakan ikan. Hasil penelitian pada ikan lele masamo memiliki pertumbuhan berat mutlak sebesar 12,73 g, rasio konversi pakan (FCR) adalah sebesar 1,017, nilai retensi protein 56,58%  sedangkan pada ikan nila nilai FCR sebesar 1,01 ,retensi protein sebesar 67,8%.  Dari hasil ini menunjukkan bahwa kepala ikan teri jengki dengan  nutrisi yang tinggi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan  pakan ikan sehingga dapat mengurangi biaya pakan dari tepung ikan impor yang harganya mencapai Rp. 15.000/kg. (roes).
Pakan Ikan berbahan Baku Tepung Kepala Ikan Teri