Peluang Sekaligus Tantangan

Posted by Pulau Pasaran on Monday, February 23, 2015
Teri nasi asin kering menjadi produk unggulan masyarakat Pulau Pasaran dengan rata-rata produksi mencapai 10 ton per hari . Jumlah pengolah teri nasi terbagi ke dalam 5 kelompok (sekitar 59 unit pengolah) dengan teknik pengolahan yang masih tergolong sederhana dan fishing ground ikan teri terdapat di Teluk Lampung dan Samudera Indonesia.
Pada tahun 2009, volume ikan teri yang diekspor sebanyak 1,98 juta kg dengan nilai sebesar 7,93 juta US$, meningkat menjadi 1,999 juta kg tahun 2010 dengan nilai sebesar 11,89 juta US$ atau mengalami kenaikan nilai ekspor hampir mencapai 50%. Kondisi ini dapat menjadi salah satu indikasi bahwa ikan teri dapat menjadi komoditi andalan perikanan di masa mendatang.
Hanya saja terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan klaster teri nasi di Pulau Pasaran, diantaranya a). penangkapan teri nasi sangat tergantung pada faktor alam sehingga produksi tidak bisa diprediksi, b). sulitnya akses pasar karena pengolah teri nasi tidak bisa langsung menjual produknya ke konsumen melainkan harus melewati jalur distribusi yang panjang, c). minimnya upaya diversifikasi produk yang dilakukan sehingga banyak ikan teri yang terbuang terutama saat ikan melimpah, dan d). pengelolaan limbah kepala teri yang mencapai 30% dari berat total dan hingga kini belum termanfaatkan.
Produk sampingan berupa kepala teri yang belum termanfaatkan sebenarnya juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengrajin. Selama ini kepala ikan teri sebagai produk sampingan hanya dijual langsung oleh pengrajin dengan harga  hanya Rp2 ribu per kilogramnya. Program Hi-Link yang dijalankan oleh Universitas Lampung memberikan pengetahuan untuk dapat mengolah limbah kepala ikan teri tersebut menjadi tepung ikan yang nantinya bisa dijadikan sebagai bahan baku pakan ikan. Jika diolah menjadi tepung ikan nilai jualnya bisa meningkat menjadi Rp8 ribu.
Menurut  Senior Experts PUM Netherlands, Mr. Henk yang telah mengamati bagaimana potensi yang ada di Pulau Pasaran menilai Pulau Pasaran memiliki pemandangan yang bagus. dan terkesan dengan produk-produk yang dihasilkan. Meski demikian, ia mengaku belum tentu memutuskan kerja sama secepatnya untuk mengekspor hasil-hasil nelayan dari Pulau Pasaran ke luar negeri. Sebab, sekarang ini kapasitas yang dimiliki nelayan Pulau Pasaran hanya sekitar 6 ribu ton per tahun sehingga belum cukup untuk dilakukan ekspor. Sebab, kapasitas ekspor per harinya dalam satu kontainer membutuhkan 20 ton per hari.

Ada beberapa hal yang paling penting  yang harus dilakukan oleh pengrajin teri di Pulau Pasaran antara lain :
  1. Peningkatan produksi dan berkualitas ekspor dengan cara nelayan bersatu sehingga dapat mencapai kebutuhan ekspor yang ditentukan, baik secara kuantitas dan kualitas.
  2. Perlu diversifikasi produk semisal ikan dan kerang hijau di Pulau Pasaran.
  3. Peningkatan sanitasi lingkungan untuk mendukung kualitas produk terutama ikan dan kerang hijau. Sanitasi adalah modal utama dalam kebersihan. Sehingga produk yang dimiliki dapat dipasarkan di Belanda dan negara-negara di Eropa lainnya.
  4. Peningkatan sarana dan prasaran produksi seperti konstruksi jembatan yang belum representatif karena hanya bisa dilalui oleh sepeda motor sehingga sulit dalam menyalurkan produk. Sementara, jika melalui jalur laut, akan membuat modal awal menjadi tinggi.
  5. Peningkatan teknologi pengolahan, terutama teknologi pengeringan ikan. Pengeringan yang dilakukan pada udara terbuka kemungkinan besar terjadi kontaminasi karena banyaknya binatang, seperti kucing dan ayam, yang berkeliaran di area pengeringan. Selain itu pengemasan hasil olahan dengan produk vakum sehingga daya awetnya mencapai empat bulan.

Untuk dapat mengantisipasi tantangan tersebut peran serta semua stakeholder sangatlah penting. Koperasi Perikanan ISM (Ikhtiar Swadaya Mitra) Mitra Karya Bahari Pulau Pasaran hasil binaan Bank Indonesia dapat menjadi pionir penggerak utama dalam roda industri di pulau ini. Juga dapat meningkatkan penanganan hasil tangkapan menjadi lebih baik, sehingga dapat diekspor ke luar negeri. Terkait kebersihan di Pulau Pasaran, kerja sama dengan beberapa LSM yang peduli dengan lingkungan, seperti Mitra Bentala, Walhi, dan masyarakat.

Usaha lain yang telah dilakukan Pemerintah daerah Kota Bandar Lampung adalah menambah 100 keramba kerang hijau untuk nelayan Pulau Pasaran dengan total bantuan senilai Rp500 juta. Selain itu, fasilitas yang dikeluhkan secara bertahap akan diperbaiki dan diperlebar. Begitu pun dengan sanitasi agar aliran air dapat berjalan, sehingga kebersihan Pulau Pasaran dapat berjalan.