Harapan Generasi Nelayan

Posted by Pulau Pasaran on Sunday, September 21, 2014

Boleh dibilang, keluarga nelayan umumnya lebih miskin daripada keluarga petani atau pengrajin (Mubyarto, Sutrisno dan Dove, 1984). Disisi lain laut memiliki potensi yang sangat besar, seharusnya Indonesia mampu menjadi Negara yang kaya dan maju. Mengapa demikian?. Karena pada umumnya, kultur masyarakat diwilayah pesisir cukup berbeda dengan masyarakat di wilayah pegunungan. Menurut pengamatan kami (Mahasiswa KKN Tematik Unila), hal ini disebabkan karena pengelolaan perikanan masih didominasi nelayan tradisional, kemudian pada cara pandang dan kultur budaya yang sedikit “Keras” membuat mainset sulit berkembang. Tak hanya di wilayah pinggiran kota ini (baca : sekitaran pulau pasaran), tapi juga mayoritas di wilayah pesisir lainnya. Perlu menjadi catatan bahwa bukan kondisi geografis yang menentukan kultur dan cara pandang masyarakat, namun poin yang dianggap penting adalah “Pendidikan”.

Dengan mendapatkan pendidikan yang baik kita akan bisa mendapat masa depan yang lebih baik. Saat ini mencari kerja sangatlah sulit. Bila kita tidak punya latar pendidikan yang cukup baik kita akan kalah bersaing dengan orang – orang yang berada diluar sana. Bahkan, saat ini di Indonesia tak sedikit dengan kelas sarjana menjadi pengangguran. Persaingan begitu hebat, sehingga tingkatan pendidikan menjadi kunci masa depan.
Dalam tingkatan tertentu, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mencari pekerjaan. Hal ini benar adanya karena pendidikan memang tidak hanya di tujukan untuk mendapatkan kerja yang lebih baik. Menurut (carakata.org) Pendidikan juga mengasah kemampuan dan ketrampilan kita dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan cara yang cepat dan tepat. Itulah fungsi pendidikan yang seharusnya kita pahami. Jadi kalau ada yang bilang bahwa fungsi pendidikan adalah untuk mendapat pekerjaan tentu ini salah kaprah. Mendapat pekerjaan adalah hanya salah satu dari fungsi pendidikan.
Jadi, Bagaimana dengan Harapan Generasi Nelayan??


Tak dipungkiri, setiap kalangan masyarakat menginginkan kesejahteraan. Begitu juga dengan para nelayan. Bagaimana agar kehidupan nelayan mencapai kemapanan? Apakah bantatuan dana yang besar ataupun modernisasi alat – alat tangkapan ikan nelayan seketika dapat mensejahterakan?. Tentu jawabannya Tidak. Jika struktur dan infrastruktur diperbaharui, namun mainset tak berkembang. Hal yang dianggap “Bantuan Kesejahteraan” hanya akan dirasakan sementara. Tak berkepanjangan dan tak mengubah nasib generasi.
Melihat kondisi sosial masyarakat pesisir saat ini (baca : sekitaran pulau pasaran) dengan semangat pendidikan anak – anak yang luar biasa, namun terfasilitasi seadanya saja. Tak lagi menjadi fenomena yang mengherankan, ketika anak yang duduk di kelas 6 sekolah dasar yang seharusnya sudah mampu menganalisis dan melakukan problem solving belum memahami sekedar konsep perkalian saja. Bahkan, untuk membaca buku teks dan Al-qur’an pun masih sangat banyak anak – anak bahkan orang dewasa yang dinilai masih “buta”.  

Perlu banyak yang dibenahi ternyata dari pendidikan dipinggiran kota ini. Melihat fenomena ini, maka kami (baca : mahasiswa Universitas Lampung), berinisiatif untuk menggelar “Bimbel” Gratis. Ternyata, antusias anak – anak sekitar wilayah ini sangat baik. Disetiap malamnya, kami menjumpai tamu lebih kurang 40 orang untuk belajar, tutur salah satu Tim KKN yang melaksanakan program ini. Menurut kami, tak hanya materi – materi sekolah yang dapat kami tanamkan kepada adik – adik disini, tapi motivasi dan semangat merubah kehidupan generasi yang akan “pelan – pelan” kami tanamkan.
Ternyata, hal demikian tak hanya menjadi harapan kami. Tapi, hal ini menjadi harapan generasi nelayan di pinggiran kota ini. Mereka ingin mengembangkan usaha yang ada, dengan konsep yang modern. “Biar nanti jadi pengusaha disini” kata salah satu anak yang menjadi objek observasi kami.

Begitu pentingnya pengembangan wilayah pesisir dari dasar. Yaitu “Pendidikan”, dalam sisi yang lain sistem pendidikan tetap membutuhkan peran orang tua sebagai fasilitator. Pendidikan anak adalah tanggung jawab segala pihak yang terlibat, sekolah komunitas dan tentunya juga tanggung jawab negara secara umum. Anak akan menjadi harapan generasi penerus, namun hal ini tak lepas dari peran orang tua membimbing dan membudayakan hal – hal yang baik mulai dari hal kecil. Tentu hal ini tak akan berubah dengan instan, perlu sentuhan aspek pendidikan untuk keseluruhan elemen, dari berbagai kalangan mulai dari hal – hal yang kecil.


Posted by : Shintha Yunia Ulfa